(Cerpen
Hana Rulistiawan)
Pagi belum nyata. Saat kebanyakan
orang masih berselimut, aku berjalan di pinggir pantai. Aku senang diam di
pinggir pantai saat matahari belum tampak sambil mengamati para nelayan yang
sedang bekerja. Saat sedang asyik menikmati pemandangan pantai waktu subuh,
pandanganku tertuju pada seorang gadis seumuranku yang kukenal dengan baik.
"Ayah, bukankah cuaca masih tidak
baik untuk berlayar? Kenapa tidak tunggu sampai ombak tidak terlalu
tinggi?" tanya Lastri pada Ayahnya. Lastri adalah seorang gadis manis
berkulit hitam. Dia tetanggaku yang juga anak dari salah satu nelayan di desa
ini. Rumahnya hanya berjarak beberapa meter saja dari rumahku. Tidak berbeda
dengan Lastri, Ayahku juga seorang nelayan sederhana, sedangkan Ibuku membantu
dengan berjualan makanan ringan atau juga sesekali ikut berlayar bersama Ayah.
"Lastri, Pak Broto sudah
kehilangan kesabarannya. Ia ingin agar Ayah melunasi hutang-hutang ayah besok
lusa. Kalau tidak, Pak Broto akan menyita perahu dan rumah kita," jawab Ayahnya.
Sambil membantu mempersiapkan,
berulangkali Lastri terlihat membujuk Ayah dan Ibunya untuk mengurungkan niat
mereka. Tapi aku mengerti, sangat mengerti bahwa apa yang Ayah dan Ibu Lastri lakukan
adalah untuk menyambung kehidupan mereka. Bagaimana jika perahu itu diambil Pak
Broto? Ayah Lastri tentu akan menjadi seorang pengangguran. Lalu rumahnya? Akh,
gubuk kecil yang terbuat dari bilik itu, menjadi tempat yang selama ini mereka
tinggali menjadi satu-satunya tempat berlindung dari sengatan panas matahari,
juga saat langit memuntahkan berliter-liter air hujan yang dibarengi petir yang
bersahutan.
"Lastri, Ibu titip adik-adikmu!"
pesan Ibunya.
"Tentu bu, Lastri pasti menjaga
mereka," kata Lastri meyakinkan.
Huuuffttthh, Lastri terlihat menghela
napas panjang, saat perahu ayahnya mulai meninggalkan bibir pantai. Aku tahu
benar Lastri khawatir dengan orang tuanya.
Kekhawatiran Lastri tentu beralasan,
pasalnya sudah sejak lima hari lalu nelayan disini tidak diijinkan melaut.
Gelombang tinggi dan cuaca buruk menjadi alasan kuat bagi para nelayan untuk
berdiam sejenak di rumah-rumah mereka. Tapi, tidak sedikit pula nelayan yang
membandel yang tetap saja melaut, seperti yang Ayah Lastri lakukan sekarang. Bukan
lantaran tidak peduli pada nyawa, tapi himpitan kemiskinan adalah alasan utama
mereka. Yah, siapa yang akan berdiam diri melihat anak istrinya kelaparan?
Segera setelah bayangan perahu ayahnya
tidak tampak lagi, Lastri pergi meninggalkan pantai. Kini hanya ada aku dan
beberapa nelayan yang sedang membereskan ikan-ikan hasil tangkapannya di sini.
Matahari mulai merangkak naik. Pantai
mulai ramai dengan anak-anak nelayan miskin yang berlari-lari kesana kemari.
Aku pulang ke gubuk yang tak jauh dari pantai, satu dari puluhan rumah para
nelayan yang bertumpuk dan berdesakan. Bau amis ikan sudah seperti aroma
pengharum ruangan bagi kami. Tidak ada pilihan aroma lain yang bisa kami hirup.
Dimana-mana hanya ada ikan dengan berbagai jenis.
Sampai di depan rumah, aku melihat
Ikbal, adik pertama Lastri sudah bersiap pergi ke sekolah, sedangkan adik
bungsunya yang baru berumur 4 tahun, Isal, sepertinya masih tidur pulas di atas
satu-satunya kasur busa tipis yang mereka miliki. Aku mengenal keluarga Lastri
dengan baik. Dia gadis yang baik dan rajin. Kami memang dekat, hanya saja
kesibukan Lastri mengurusi adik-adiknya membuat kami jarang mengobrol.
Biasanya sambil menunggu Isal bangun, Lastri
memasak sepanci air untuk minum dengan menggunakan kayu bakar. Di desa ini
tidak ada kompor gas, yang ada hanya kayu. Bukan karena di desa kami tidak
mengenal gas, hanya saja rasanya penghasilan keluarga nelayan miskin seperti
kami tentu akan jauh lebih memilih kayu bakar dengan efek asap mengepul
ketimbang harus menyisihkan jatah untuk membeli gas.
Umur Lastri yang sudah menginjak angka tujuh belas memaksanya agar
mengerti tentang keadaan
keluarga. Keluarga nelayan miskin yang hidup
hanya dari ikan yang dititipkan Tuhan di lautan, yang harus ditangkap dengan
taruhan nyawa. Dulu aku dan Lastri sempat satu sekolah, tapi sejak lulus SD, Lastri
sudah tidak lagi
meneruskan sekolah. Bukan lantaran malas atau
tak ingin. Tapi, lagi-lagi
lantaran garis takdir sebagai anak nelayan miskin yang menjadikannya buruh cuci para tetangga yang bekerja di beberapa pabrik yang berjarak 10 km dari desa, mereka yang memang tak punya waktu untuk
mencuci. Hmm, untuk apa
juga mereka capek mencuci, sedang disini ada Lastri yang siap kapanpun mereka perlukan.
Tidak hanya Lastri, si gadis pencuci, beberapa anak nelayan yang nasibnya sama
seperti Lastri pun melakukannya, dari mencuci, berjualan di pasar, hingga
menjadi pembantu rumah tangga sudah menjadi hal yang sangat biasa disini.
Keadaan keluargaku memang tidak lantas
membuat kehidupanku seperti Lastri. Keluargaku cukup mampu, meskipun juga tidak
kaya. Tapi rasanya masih bisa membiayai aku sekolah sampai tingkat SMA.
Setelah Isal bangun, Lastri biasa
mengajaknya berkeliling untuk mengambil cucian, walau terkadang ada beberapa
tetangga yang mengantarkannya ke rumah. Lalu, saat Lastri tengah sibuk mencuci,
Isal dibiarkan bermain dengan anak-anak tetangga.
***
Matahari
tenggelam. Hari mulai gelap.
“Sedang apa kamu, Las?” tanyaku pada
Lastri yang diam mematung di ambang pintu rumahnya.
“Aku sedang menunggu Ayah dan Ibu
pulang,” jawab Lastri sambil tersenyum.
“Oh… ya sudah, aku masuk dulu ya!”
kataku sambil membereskan jemuran di depan rumah. Lastri mengaguk sambil
tersenyum.
Kini
suasana di sekitar desa menjadi sunyi. Udara sangat dingin menancap di kulit.
Angin laut bertiup kencang. Sepertinya akan datang badai.
Malam
sudah terlalu larut, aku memutuskan
untuk segera tidur. Tetapi, saat hendak berbaring, tiba-tiba Duaaarrrrrrr! Sekelebat
sinar disusul suara menggelegar membuatku tersentak. Dentuman petir saling
bersahutan memekakkan telinga.
“Apakah
badai akan datang?” gumamku sambil mengintip keadaan di luar dari jendela. Di
luar begitu pekat, awan hitam bergulung-ngulung, kulihat Lastri masih berdiri
di ambang pintu rumahnya. Aku mengerti kekhawatirannya. Segera menutup jendela
kembali. Tak lama kemudian hujan turun.
***
Pagi
belum nyata benar. Tidak ada kokok ayam jantan, karena memang tidak ada yang
memeliharanya di sini. Seorang pria paruh baya bersiap melantunkan adzan di
masjid yang ada di ujung gang sempit ini.
Aku hendak pergi ke pantai seperti
biasa. Betapa kaget saat kudapati Lastri masih berdiri di ambang pintu
rumahnya. Tubuhnya terlihat lemas. Aku yakin semalaman dia tidak tidur.
Kulanjutkan langkah kakiku menuju
pantai. Kularikan pandanganku pada seluruh penjuru pantai, berharap dua sosok
manusia yang kucari dapat kutemukan. Ah, apa mereka lupa waktu? Hingga subuh
pun mereka masih terkatung-katung di lautan demi mendapatkan banyak ikan untuk
di jual dan hasilnya akan dibayarkan pada Pak Broto, si lintah darat itu! Sepengetahuanku
ini pertama kalinya Ayah dan Ibu Lastri tidak pulang semalaman, apalagi hanya
karena mencari ikan.
Matahari mulai muncul, saatnya aku
pulang. Langkahku terhenti tepat di depan rumah Lastri saat Mbok Darmi
berteriak-teriak memanggil Lastri.
“Las… Lastriiii… !!”
“Iya mbok?” jawab Lastri. Isal yang
sedang disuapi Lastri menatap serius pada Mbok Darmi.
Mbok Darmi membisikkan sesuatu ke
telinga Lastri. Seketika wajah Lastri yang cantik itu berubah menjadi keruh.
Bak awan hitam yang kulihat tadi malam. Lastri langsung berlari ke luar rumah
sambil berteriak pada kedua adiknya, “kalian berdua tunggu di sini, jangan
kemana-mana!”
Lastri berlari sekencang yang dia bisa
menuju pantai sambil menangis. “Tuhan, kenapa Kau pulangkan Ayah dan Ibuku
dalam keadaan tak bernyawa?” ucap Lastri sambil sesenggukan saat dia berjalan
tepat di depanku. Aku tersentak. Bukan main musibah yang dipikul salah satu
teman baikku itu. Aku langsung ikut berlari mengikutinya.
Lastri tampak mendekap satu persatu
orang yang amat dicintainya itu. Mereka basah, beku, sangat dingin.
Diperkirakan saat hujan kemarin malam gelombang meninggi dan perahu yang mereka
gunakan terbalik, lalu keduanya tersapu ombak. Mayat mereka ditemukan mengapung
jauh dari perahu.
Aku baru sadar, ada dua anak laki-laki
berdiri disampingku, Ikbal dan Isal! Aku langsung memeluk mereka erat. Sangat
erat. Mereka menangis, semakin keras. Dadaku sesak.
***
Selesai pemakaman, Ikbal dan Isal
masih menangis. Sedangkan Lastri tampak lebih tenang, walaupun aku tahu hatinya
pasti hancur kala mendapati orang-orang yang dicintainya tak lagi bernyawa. Aku
sangat mengerti apa yang mereka rasakan. Tapi hidup mereka harus terus
berlanjut.
Saat tiba di rumah Beni dan Lian masih
saja terisak. Aku mulai tak tahan melihatnya. “Sudahlah, ikhlaskan mereka,”
kataku. Aku tahu, ucapanku itu mungkin tidak ada artinya bagi mereka. Bagaimana
tidak, kini tak ada lagi penopang hidup mereka.
“Kuatlah Las, adik-adikmu sangat
membutuhkanmu”, bisikku pada Lastri sambil mendekapnya erat. Sejenak Lastri
pejamkan mata, menghela napas panjang, dan tersenyum padaku. Yah, dia memang harus kuat demi kedua
adiknya.
Tok tok tok! Seseorang mengetuk pintu
rumah dengan sangat keras. Aku bergegas membukanya. Tampaklah seorang berbadan
tegap. Postur tubuhnya yang besar dan raut wajah sangarnya lebih tepat jika
diibaratkan seekor monster besar yang siap menikam mangsanya. Pak Broto! Aku
kenal betul pria itu.
“Aku dengar Ayah dan Ibumu mati
terseret ombak?” tanya Pak Broto tegas pada Lastri. Mati? Itulah Broto, lelaki
yang sudah tidak muda lagi itu memang tidak pernah memperhatikan etika
kesopanan dan tak pernah berbasa-basi.
“Ya…” jawab Lastri pelan.
“Berarti hutang-hutang Ayahmu kau yang
bayar?”
Diam. Aku bingung. Dengan apa Lastri
harus membayarnya?
“Pak Broto, orangtuanya kan baru saja
meninggal… berilah mereka sedikit waktu! Bagaimana bisa anak kecil seperti
mereka mampu membayar hutang yang begitu besar?” kataku ikut bicara. Lastri
hanya menunduk lemas. Dia pasti bingung, bagaimana bisa dia membayar hutang
Ayahnya.
“Baiklah, aku beri waktu dua hari! Tidak
lebih!” kata Pak Broto setelah berpikir beberapa saat.
Belum sempat Lastri menjawabnya, Pak
Broto bersama para ajudannya langsung pergi, mungkin dia tidak tahan lama-lama
berada di gubuk kecil ini.
“Bagaimana ini Lana? Darimana Aku bisa
dapat uang sebanyak itu?”, tanya Lastri padaku. Suaranya parau, tampak benar
beban berat sedang berusaha dia pikul seorang diri. Aku tidak tega melihatnya.
Bagaimana pun dia adalah temanku sejak kecil. Sebenarnya hutang Ayah Lastri
pada Pak Broto awalnya 2 juta, tapi entah bagaimana ceritanya saat ini hutang
Ayah menjadi 5 juta.
“Tenang Las, kita pasti dapat jalan
keluarnya,” kataku sambil merangkul pundakku. Aku berusaha menguatkannya.
“Harga perahu sekarang berapa ya, Lan?”
tanya Lastri tiba-tiba.
“Hmm, aku tidak tahu, Las. Memangnya
kenapa? Kau tidak berniat untuk menjual perahu Ayahmu kan?” tanyaku mulai curiga.
“Lastri, kau tahu sendiri itu perahu kesayangan Ayahmu sejak dulu. Sudah banyak
yang menawarnya, tapi tak pernah sekalipun ia berniat menjualnya”.
“Aku tahu Lan, tapi aku tak punya
pilihan lain! Sekarang, darimana aku bisa mendapat uang 5 juta dalam dua hari?
Sedangkan upah cucianku sehari tidak lebih dari sepuluh ribu!”
Aku diam, menunduk. Ikbal dan Isal yang
sedari tadi mendengarkan kami pun hanya bisa diam. Aku mengerti apa yang ada
dipikiran Lastri.
***
Keesokan harinya Lastri mencoba
menawarkan perahu ayahnya pada para saudagar, tapi tidak ada satupun yang
berminat membelinya. Tapi Lastri tetap tak mau menyerah. Lastri mengelilingi
desa berharap ada yang mau membeli perhau Ayahnya. Tapi masih saja tak ada yang
mau beli, Lastri pun mulai persimis.
“Lastri!” sengaja aku kagetkan Lastri
yang sedari tadi terlihat asyik melamun di teras rumahnya.
“Eh, iya Lana… ada apa?”
“Ada kabar baik, Las!” kataku sambil
tersenyum.
“Kabar baik apa?”
“Tadi Ayahku bilang mau membeli
perahumu!”
Lastri menatapku dengan haru. Seperti
ada setrum dalam darahnya. “Serius Lan?” tanyanya mulai bersemangat.
Aku hanya mengangguk sambil tetap
tersenyum. Dia langsung memelukku erat. Sepertinya berton-ton beban di bahunya
sedikit berkurang. Aku tersenyum. Harganya memang sedikit lebih dari hutang
Ayah Lastri. Paling tidak dapat menjadi simpanan mereka. Tanpa banyak bercakap,
aku langsung pamit dan bergegas pulang menuju rumah meninggalkan Lastri yang hanya
bisa diam.
Aku memaksa Ayahku untuk membeli
perahu Lastri. Awalnya Ayah menolak, karena tabungan keluarga kami sengaja Ayah
kumpulkan untuk biaya kuliahku nanti. Tapi setelah kupaksa, akhirnya Ayah
mengabulkan permintaanku. Aku ingin sekali bisa membantu Lastri dan hanya itu
yang bisa aku lakukan untuk Lastri sahabatku.
Mulai saat itu, sampai seterusnya
kehidupan Lastri kembali seperti biasa. Mencuci pakaian tetangga, mengasuh Ikbal
dan Isal, membantu Mbok Darmi, sampai merindukan Ayah dan Ibunya. Meskipun kami
hanya keluarga nelayan miskin, kami tetap senang tinggal di desa ini, di negeri
anak-anak nelayan.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar