One Love for One's Life...

Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Kamis, 05 Juli 2012

ALIYA SAYANG

Cerita Pendek Hana Rulistiawan

Dia masih diam. Sesekali menoleh ke arahku. Pandangannya kosong, seakan berton-ton beban sedang berusaha dia pikul sendiri. Berkali-kali aku membujuknya bicara, dia tetap saja diam. Satu jam yang lalu dia menelepon, mengajakku untuk bertemu. Sengaja aku pilih kafe favoritnya ini untuk membuatnya senang. Aku mengenalnya sebagai gadis yang ceria, tapi hari ini aku seperti tak mengenalnya.
“Sayang, kamu kenapa?” kataku lembut. Berharap kali ini dia mau bicara.
Butiran air bening dari matanya turun deras. Dia menangis. Aku semakin merasa serba salah. Dia menatap mataku sebentar. Air matanya masih tak berhenti mengalir. Masih tak bicara. Dan akupun tetap tak bisa membaca beban di matanya.
Dia tertunduk sejenak, menarik napas panjang, “kamu tahu kan orang tua aku ingin aku menikah dengan lelaki seperti apa?”
Aku diam, berusaha menebak-nebak apa yang hendak dibicarakan oleh gadis yang sangat kucintai ini. “Iya, kita pernah membicarakan hal itu…” jawabku berusaha tetap tenang. Dia diam lagi, beberapa menit. Aku semakin yakin, ada yang tak beres. Dia banyak diam hari ini, sungguh tidak biasa.
Yah, dia pernah bercerita tentang keluarganya yang fanatik. Nenek moyangnya adalah seorang ulama besar, yang menjadikan keluarganya sekarang pun menjadi keluarga dengan ilmu agama yang kuat. Sudah bisa dibayangkan bukan? Orang tuanya pasti ingin anak-anaknya menikah dengan lelaki dengan ilmu agama yang sama kuatnya dengan mereka.
“Itulah kenapa aku ingin kita bertemu. Orang tuaku ingin agar aku menikah dengan lelaki seperti apa yang mereka harapkan selama ini…” paparnya. Pandangannya lurus ke depan, hanya sesekali menoleh ke arahku, lalu tertunduk lagi.
Aku biarkan dia berpikir dalam kebisuannya. Aku tahu benar, ada beban yang ingin dibaginya padaku. Hanya mungkin emosi masih menguasai perasaannya. Aku mencoba untuk lebih tenang, dan tetap menunggu dia bicara.
“Ayah ingin aku menikah dengan anaknya Ustad Hakim. Aku sudah berusaha menolaknya, tapi ayah tetap tidak mau menerima alasanku! Aku…” tiba-tiba kalimatnya terhenti. Dia menangis lagi. Entahlah, tiba-tiba darahku terasa memanas. Udara yang mengelus-elus kulitku terasa lebih hangat, padahal sore tadi turun hujan.
Aku genggam kedua tangannya. Bermaksud untuk menguatkannya. Ini sangat berat buatku, dan aku yakin begitu juga untuknya. Tapi aku tak mau egois, aku tidak boleh hanya memikirkan diriku sendiri. Aku juga tidak ingin dikuasai amarah.
“Bagaimana jika kita berdua bicarakan lagi dengan orang tuamu?” bujukku. Sebenarnya, aku sendiri pun tidak yakin dengan ide itu, tapi memang tidak ada lagi yang bisa kupikirkan.
“Sudah kubilang, ayah tidak mau menerima alasan apapun. Ayah bilang, ia tahu apa yang terbaik buatku!” katanya setengah berteriak sambil tetap menangis, “sudahlah, kita harus sama-sama mengerti. Mungkin ini memang yang terbaik untuk kita…” dia berusaha menghapus air matanya yang tetap saja mengalir dengan sapu tangan merah jambu bermotif bunga-bunga kecil yang juga basah. Segera Aliya mengambil tasnya lalu beranjak pergi. Aku tak menghalanginya. Kubiarkan dia pergi.
 Itulah terakhir kalinya aku bertemu dengan Aliya, gadis cantik yang dua tahun terakhir ini begitu aku cintai. Bukan karena aku tidak lagi mencintainya lantas aku membiarkannya pergi begitu saja, tapi lantaran aku sadar akan keadaanku sendiri yang jauh dari apa yang diharapkan oleh kedua orang tuanya. Orang tuaku bukan ustad, apalagi kyai. Nenek moyang keluargaku mungkin juga bukan seorang ulama. Biasa saja, kami mengenal Tuhan dan kami beribadah pada-Nya.
Sekitar setengah jam yang lalu, aku menerima pesan singkat di ponselku. Ternyata itu dari Aliya, dia memintaku datang ke kafe ini. Sudah dua bulan kami tidak bertemu, sejak dia memutuskan untuk menuruti keinginan orang tuanya, dan aku tidak berani untuk menemuinya lagi. Pernah beberapa kali aku mencoba menghubunginya, tapi selalu gagal.
Sore ini aku akan bertemu dengannya, aku belum tahu alasan dia mengajakku bertemu. Jujur saja, dalam hati aku memang merasa senang bisa bertemu dengan gadis yang sampai saat ini menjadi pujaan hatiku itu. Diam-diam aku menaruh harapan bahwa pertemuanku kali ini dengan Aliya akan membuat hubungan kami membaik dan kami bisa bersama lagi.
Cukup lama aku menunggu, sampai tak terasa segelas besar jus jeruk sudah sejak tadi kuhabiskan. Aku masih menunggunya.
Dari pintu masuk kulihat sosok yang tak asing lagi. Seorang gadis cantik yang sangat kurindukan. Dia tampak mencari-cari sesuatu. Pandangannya terhenti padaku, lalu bergegas mengampiriku. Tetapi ternyata Aliya tidak datang sendiri. Dia bersama seorang pria.
Pria itu berbadan tegap. Rambutnya terlihat mengkilap-kilap saat terkena cahaya lampu kafe. Matanya tampak seperti orang yang mengantuk. Bibirnya yang tipis selalu memamerkan deretan giginya yang rapi pada setiap orang dengan ramah. Kemeja yang dikenakannya sangat rapi, seperti habis disetrika berulang kali.
“Assalamu’alaikum.” sapa Aliya.
Aku tertegun. Tidak biasanya ia menyapaku dengan salam seperti itu. Tiba-tiba aku merasa asing darinya. “Wa… Waalaikumsalam,” jawabku sambil tersenyum. Lelaki di samping Aliya menyalamiku sambil tersenyum ramah. Aku kesal, tapi berusaha tetap tenang.
Sekarang kami bertiga duduk di satu meja yang sama. Beberapa menit kami terdiam. Kaku.
“Ben, kamu tahu kenapa aku mengajakmu bertemu sekarang?” kata Aliya berusaha mencairkan ketegangan di antara kami.
“Tidak…” ujarku pelan sambil tersenyum, “memangnya ada apa?”
Aliya memasukan tangan kanannya ke dalam tas yang dibawanya, seperti hendak mengambil sesuatu. “Nih, untukmu!” kata Aliya sambil menyodorkan sebuah kertas berwarna merah padaku. Itu seperti……undangan!
Aku kaget bukan kepalang. Aku tak menyangka pertemuanku kali ini adalah untuk melepas gadis yang selama ini kucintai dan memberikannya pada orang lain. Tiba-tiba dadaku sesak. Aku seperti tidak bisa bernapas. Aku ingin marah, tapi tak bisa.
“Aku ingin kamu datang!” lanjut Aliya yang langsung berpamitan pergi bersama calon suaminya itu. Tidak ada satupun kata yang keluar dari mulutku. Aku hanya bisa memandangi Aliya berlalu, pergi begitu saja meninggalkanku yang membisu di kafe yang mulai sepi ini.
Aliya, dari raut wajahnya saja sangat terlihat bahwa dia sangat bahagia saat ini. Sejak tiba di kafe dan menemuiku tadi, senyuman tak pernah lepas dari wajahnya. Aku merasa sangat tak berarti.
Aku rebahkan tubuhku di kasur dengan sprei warna cokelat, berharap seluruh bebanku akan tumpah di kasur ini. Aku pejamkan mata, dan sosok gadis cantik yang telah kucintai dua tahun terakhir ini saja yang terbayang. Aku menarik napas panjang. Ada amarah yang tidak bisa aku tumpahkan, hingga dadaku terasa sesak, batinku begitu sakit. Entahlah ini pertama kalinya aku merasakan hal ini. Aku baru sadar, mungkin selama dua bulan kami tidak berhubungan, dia telah berusaha melupakan aku dan menerima lelaki yang dipilihkan keluarganya itu.
Aku mulai tenggelam dalam lamunan. Kenangan Aliya dan kebersamaan kami selama dua tahun kini terasa bagai kilatan petir saat musim panas merobek-robek batinku. Dukaku semakin dalam saat kuingat rencana kami untuk menikah tahun depan.
Pukul dua pagi aku terbangun, Lamunanku tentang Aliya tadi telah mengantarku tidur. Aku masih memakai kemeja berwana abu-abu yang kupakai untuk menemui Aliya tadi sore. Pandanganku jatuh pada sehelai kartu berwarna merah di meja dekat jendela. “Akh, Itu bukan mimpi!”
Malam ini begitu sepi, hanya terdengar suara burung kenari peliharaan ayah dan sesekali terdengar suara nyamuk kelaparan yang sepertinya berharap aku membiarkannya mengambil setetes darah dari tubuhku.
Aku beranjak dari tempat tidur. Aku tidak bisa memejamkan mata lagi, rasa kantuk sekejap hilang saat mengingat kejadian sore tadi. Tanpa ragu, kulangkahkan kaki menuju kamar mandi, aku langsung mengambil air untuk berwudhu. Setelah melaksanakan salat isya, aku melanjutkannya dengan salat tahajud. Entahlah, sebenarnya aku tidak biasa melaksanakan salat malam, tapi malam ini keinginanku untuk melaksanakannya begitu kuat.
Mungkin malam ini aku bisa bertemu dengan Tuhan,  aku ingin menumpahkan kekesalan di hatiku pada-Nya. Aku merasa tak ada yang akan mengerti apa yang kurasakan saat ini selain Dia. Tuhan pasti tahu apa yang kurasakan tanpa harus aku sendiri yang memberitahunya. Aku larut dalam doa. Menangis dalam hati.
Sudah satu jam aku duduk di atas sajadah hijau yang bergambarkan Ka’bah ini. Amarahku belum reda semua, tapi sekarang beban di hatiku sudah sedikit berkurang. Aku melanjutkan doa. Aku berdoa untuk kebahagiaan Aliya dan suaminya. Sampai detik saat dia meninggalkanku pun aku masih sangat menyayanginya.



Bandung, Oktober 2011

Kamis, 31 Mei 2012

NEGERI ANAK NELAYAN


(Cerpen Hana Rulistiawan)

Pagi belum nyata. Saat kebanyakan orang masih berselimut, aku berjalan di pinggir pantai. Aku senang diam di pinggir pantai saat matahari belum tampak sambil mengamati para nelayan yang sedang bekerja. Saat sedang asyik menikmati pemandangan pantai waktu subuh, pandanganku tertuju pada seorang gadis seumuranku yang kukenal dengan baik.
"Ayah, bukankah cuaca masih tidak baik untuk berlayar? Kenapa tidak tunggu sampai ombak tidak terlalu tinggi?" tanya Lastri pada Ayahnya. Lastri adalah seorang gadis manis berkulit hitam. Dia tetanggaku yang juga anak dari salah satu nelayan di desa ini. Rumahnya hanya berjarak beberapa meter saja dari rumahku. Tidak berbeda dengan Lastri, Ayahku juga seorang nelayan sederhana, sedangkan Ibuku membantu dengan berjualan makanan ringan atau juga sesekali ikut berlayar bersama Ayah.
"Lastri, Pak Broto sudah kehilangan kesabarannya. Ia ingin agar Ayah melunasi hutang-hutang ayah besok lusa. Kalau tidak, Pak Broto akan menyita perahu dan rumah kita," jawab Ayahnya.
Sambil membantu mempersiapkan, berulangkali Lastri terlihat membujuk Ayah dan Ibunya untuk mengurungkan niat mereka. Tapi aku mengerti, sangat mengerti bahwa apa yang Ayah dan Ibu Lastri lakukan adalah untuk menyambung kehidupan mereka. Bagaimana jika perahu itu diambil Pak Broto? Ayah Lastri tentu akan menjadi seorang pengangguran. Lalu rumahnya? Akh, gubuk kecil yang terbuat dari bilik itu, menjadi tempat yang selama ini mereka tinggali menjadi satu-satunya tempat berlindung dari sengatan panas matahari, juga saat langit memuntahkan berliter-liter air hujan yang dibarengi petir yang bersahutan.
"Lastri, Ibu titip adik-adikmu!" pesan Ibunya.
"Tentu bu, Lastri pasti menjaga mereka," kata Lastri meyakinkan.
Huuuffttthh, Lastri terlihat menghela napas panjang, saat perahu ayahnya mulai meninggalkan bibir pantai. Aku tahu benar Lastri khawatir dengan orang tuanya.
Kekhawatiran Lastri tentu beralasan, pasalnya sudah sejak lima hari lalu nelayan disini tidak diijinkan melaut. Gelombang tinggi dan cuaca buruk menjadi alasan kuat bagi para nelayan untuk berdiam sejenak di rumah-rumah mereka. Tapi, tidak sedikit pula nelayan yang membandel yang tetap saja melaut, seperti yang Ayah Lastri lakukan sekarang. Bukan lantaran tidak peduli pada nyawa, tapi himpitan kemiskinan adalah alasan utama mereka. Yah, siapa yang akan berdiam diri melihat anak istrinya kelaparan?
Segera setelah bayangan perahu ayahnya tidak tampak lagi, Lastri pergi meninggalkan pantai. Kini hanya ada aku dan beberapa nelayan yang sedang membereskan ikan-ikan hasil tangkapannya di sini.
Matahari mulai merangkak naik. Pantai mulai ramai dengan anak-anak nelayan miskin yang berlari-lari kesana kemari. Aku pulang ke gubuk yang tak jauh dari pantai, satu dari puluhan rumah para nelayan yang bertumpuk dan berdesakan. Bau amis ikan sudah seperti aroma pengharum ruangan bagi kami. Tidak ada pilihan aroma lain yang bisa kami hirup. Dimana-mana hanya ada ikan dengan berbagai jenis.
Sampai di depan rumah, aku melihat Ikbal, adik pertama Lastri sudah bersiap pergi ke sekolah, sedangkan adik bungsunya yang baru berumur 4 tahun, Isal, sepertinya masih tidur pulas di atas satu-satunya kasur busa tipis yang mereka miliki. Aku mengenal keluarga Lastri dengan baik. Dia gadis yang baik dan rajin. Kami memang dekat, hanya saja kesibukan Lastri mengurusi adik-adiknya membuat kami jarang mengobrol.
Biasanya sambil menunggu Isal bangun, Lastri memasak sepanci air untuk minum dengan menggunakan kayu bakar. Di desa ini tidak ada kompor gas, yang ada hanya kayu. Bukan karena di desa kami tidak mengenal gas, hanya saja rasanya penghasilan keluarga nelayan miskin seperti kami tentu akan jauh lebih memilih kayu bakar dengan efek asap mengepul ketimbang harus menyisihkan jatah untuk membeli gas.
Umur Lastri yang sudah menginjak angka tujuh belas memaksanya agar mengerti tentang keadaan keluarga. Keluarga nelayan miskin yang hidup hanya dari ikan yang dititipkan Tuhan di lautan, yang harus ditangkap dengan taruhan nyawa. Dulu aku dan Lastri sempat satu sekolah, tapi sejak lulus SD, Lastri sudah tidak lagi meneruskan sekolah. Bukan lantaran malas atau tak ingin. Tapi, lagi-lagi lantaran garis takdir sebagai anak nelayan miskin yang menjadikannya buruh cuci para tetangga yang bekerja di beberapa pabrik yang berjarak 10 km dari desa, mereka yang memang tak punya waktu untuk mencuci. Hmm, untuk apa juga mereka capek mencuci, sedang disini ada Lastri yang siap kapanpun mereka perlukan. Tidak hanya Lastri, si gadis pencuci, beberapa anak nelayan yang nasibnya sama seperti Lastri pun melakukannya, dari mencuci, berjualan di pasar, hingga menjadi pembantu rumah tangga sudah menjadi hal yang sangat biasa disini.
Keadaan keluargaku memang tidak lantas membuat kehidupanku seperti Lastri. Keluargaku cukup mampu, meskipun juga tidak kaya. Tapi rasanya masih bisa membiayai aku sekolah sampai tingkat SMA.
Setelah Isal bangun, Lastri biasa mengajaknya berkeliling untuk mengambil cucian, walau terkadang ada beberapa tetangga yang mengantarkannya ke rumah. Lalu, saat Lastri tengah sibuk mencuci, Isal dibiarkan bermain dengan anak-anak tetangga.
***
Matahari tenggelam. Hari mulai gelap.
“Sedang apa kamu, Las?” tanyaku pada Lastri yang diam mematung di ambang pintu rumahnya.
“Aku sedang menunggu Ayah dan Ibu pulang,” jawab Lastri sambil tersenyum.
“Oh… ya sudah, aku masuk dulu ya!” kataku sambil membereskan jemuran di depan rumah. Lastri mengaguk sambil tersenyum.
Kini suasana di sekitar desa menjadi sunyi. Udara sangat dingin menancap di kulit. Angin laut bertiup kencang. Sepertinya akan datang badai.
Malam sudah terlalu larut, aku memutuskan untuk segera tidur. Tetapi, saat hendak berbaring, tiba-tiba Duaaarrrrrrr! Sekelebat sinar disusul suara menggelegar membuatku tersentak. Dentuman petir saling bersahutan memekakkan telinga.
“Apakah badai akan datang?” gumamku sambil mengintip keadaan di luar dari jendela. Di luar begitu pekat, awan hitam bergulung-ngulung, kulihat Lastri masih berdiri di ambang pintu rumahnya. Aku mengerti kekhawatirannya. Segera menutup jendela kembali. Tak lama kemudian hujan turun.
***
Pagi belum nyata benar. Tidak ada kokok ayam jantan, karena memang tidak ada yang memeliharanya di sini. Seorang pria paruh baya bersiap melantunkan adzan di masjid yang ada di ujung gang sempit ini.
Aku hendak pergi ke pantai seperti biasa. Betapa kaget saat kudapati Lastri masih berdiri di ambang pintu rumahnya. Tubuhnya terlihat lemas. Aku yakin semalaman dia tidak tidur.
Kulanjutkan langkah kakiku menuju pantai. Kularikan pandanganku pada seluruh penjuru pantai, berharap dua sosok manusia yang kucari dapat kutemukan. Ah, apa mereka lupa waktu? Hingga subuh pun mereka masih terkatung-katung di lautan demi mendapatkan banyak ikan untuk di jual dan hasilnya akan dibayarkan pada Pak Broto, si lintah darat itu! Sepengetahuanku ini pertama kalinya Ayah dan Ibu Lastri tidak pulang semalaman, apalagi hanya karena mencari ikan.
Matahari mulai muncul, saatnya aku pulang. Langkahku terhenti tepat di depan rumah Lastri saat Mbok Darmi berteriak-teriak memanggil Lastri.
“Las… Lastriiii… !!”
“Iya mbok?” jawab Lastri. Isal yang sedang disuapi Lastri menatap serius pada Mbok Darmi.
Mbok Darmi membisikkan sesuatu ke telinga Lastri. Seketika wajah Lastri yang cantik itu berubah menjadi keruh. Bak awan hitam yang kulihat tadi malam. Lastri langsung berlari ke luar rumah sambil berteriak pada kedua adiknya, “kalian berdua tunggu di sini, jangan kemana-mana!”
Lastri berlari sekencang yang dia bisa menuju pantai sambil menangis. “Tuhan, kenapa Kau pulangkan Ayah dan Ibuku dalam keadaan tak bernyawa?” ucap Lastri sambil sesenggukan saat dia berjalan tepat di depanku. Aku tersentak. Bukan main musibah yang dipikul salah satu teman baikku itu. Aku langsung ikut berlari mengikutinya.
Lastri tampak mendekap satu persatu orang yang amat dicintainya itu. Mereka basah, beku, sangat dingin. Diperkirakan saat hujan kemarin malam gelombang meninggi dan perahu yang mereka gunakan terbalik, lalu keduanya tersapu ombak. Mayat mereka ditemukan mengapung jauh dari perahu.
Aku baru sadar, ada dua anak laki-laki berdiri disampingku, Ikbal dan Isal! Aku langsung memeluk mereka erat. Sangat erat. Mereka menangis, semakin keras. Dadaku sesak.
***
Selesai pemakaman, Ikbal dan Isal masih menangis. Sedangkan Lastri tampak lebih tenang, walaupun aku tahu hatinya pasti hancur kala mendapati orang-orang yang dicintainya tak lagi bernyawa. Aku sangat mengerti apa yang mereka rasakan. Tapi hidup mereka harus terus berlanjut.
Saat tiba di rumah Beni dan Lian masih saja terisak. Aku mulai tak tahan melihatnya. “Sudahlah, ikhlaskan mereka,” kataku. Aku tahu, ucapanku itu mungkin tidak ada artinya bagi mereka. Bagaimana tidak, kini tak ada lagi penopang hidup mereka.
“Kuatlah Las, adik-adikmu sangat membutuhkanmu”, bisikku pada Lastri sambil mendekapnya erat. Sejenak Lastri pejamkan mata, menghela napas panjang, dan tersenyum padaku. Yah, dia memang harus kuat demi kedua adiknya.
Tok tok tok! Seseorang mengetuk pintu rumah dengan sangat keras. Aku bergegas membukanya. Tampaklah seorang berbadan tegap. Postur tubuhnya yang besar dan raut wajah sangarnya lebih tepat jika diibaratkan seekor monster besar yang siap menikam mangsanya. Pak Broto! Aku kenal betul pria itu.
“Aku dengar Ayah dan Ibumu mati terseret ombak?” tanya Pak Broto tegas pada Lastri. Mati? Itulah Broto, lelaki yang sudah tidak muda lagi itu memang tidak pernah memperhatikan etika kesopanan dan tak pernah berbasa-basi.
“Ya…” jawab Lastri pelan.
“Berarti hutang-hutang Ayahmu kau yang bayar?”
Diam. Aku bingung. Dengan apa Lastri harus membayarnya?
“Pak Broto, orangtuanya kan baru saja meninggal… berilah mereka sedikit waktu! Bagaimana bisa anak kecil seperti mereka mampu membayar hutang yang begitu besar?” kataku ikut bicara. Lastri hanya menunduk lemas. Dia pasti bingung, bagaimana bisa dia membayar hutang Ayahnya.
“Baiklah, aku beri waktu dua hari! Tidak lebih!” kata Pak Broto setelah berpikir beberapa saat.
Belum sempat Lastri menjawabnya, Pak Broto bersama para ajudannya langsung pergi, mungkin dia tidak tahan lama-lama berada di gubuk kecil ini.
“Bagaimana ini Lana? Darimana Aku bisa dapat uang sebanyak itu?”, tanya Lastri padaku. Suaranya parau, tampak benar beban berat sedang berusaha dia pikul seorang diri. Aku tidak tega melihatnya. Bagaimana pun dia adalah temanku sejak kecil. Sebenarnya hutang Ayah Lastri pada Pak Broto awalnya 2 juta, tapi entah bagaimana ceritanya saat ini hutang Ayah menjadi 5 juta.
“Tenang Las, kita pasti dapat jalan keluarnya,” kataku sambil merangkul pundakku. Aku berusaha menguatkannya.
“Harga perahu sekarang berapa ya, Lan?” tanya Lastri tiba-tiba.
“Hmm, aku tidak tahu, Las. Memangnya kenapa? Kau tidak berniat untuk menjual perahu Ayahmu kan?” tanyaku mulai curiga. “Lastri, kau tahu sendiri itu perahu kesayangan Ayahmu sejak dulu. Sudah banyak yang menawarnya, tapi tak pernah sekalipun ia berniat menjualnya”.
“Aku tahu Lan, tapi aku tak punya pilihan lain! Sekarang, darimana aku bisa mendapat uang 5 juta dalam dua hari? Sedangkan upah cucianku sehari tidak lebih dari sepuluh ribu!”
Aku diam, menunduk. Ikbal dan Isal yang sedari tadi mendengarkan kami pun hanya bisa diam. Aku mengerti apa yang ada dipikiran Lastri.
***
Keesokan harinya Lastri mencoba menawarkan perahu ayahnya pada para saudagar, tapi tidak ada satupun yang berminat membelinya. Tapi Lastri tetap tak mau menyerah. Lastri mengelilingi desa berharap ada yang mau membeli perhau Ayahnya. Tapi masih saja tak ada yang mau beli, Lastri pun mulai persimis.
“Lastri!” sengaja aku kagetkan Lastri yang sedari tadi terlihat asyik melamun di teras rumahnya.
“Eh, iya Lana… ada apa?”
“Ada kabar baik, Las!” kataku sambil tersenyum.
“Kabar baik apa?”
“Tadi Ayahku bilang mau membeli perahumu!”
Lastri menatapku dengan haru. Seperti ada setrum dalam darahnya. “Serius Lan?” tanyanya mulai bersemangat.
Aku hanya mengangguk sambil tetap tersenyum. Dia langsung memelukku erat. Sepertinya berton-ton beban di bahunya sedikit berkurang. Aku tersenyum. Harganya memang sedikit lebih dari hutang Ayah Lastri. Paling tidak dapat menjadi simpanan mereka. Tanpa banyak bercakap, aku langsung pamit dan bergegas pulang menuju rumah meninggalkan Lastri yang hanya bisa diam.
Aku memaksa Ayahku untuk membeli perahu Lastri. Awalnya Ayah menolak, karena tabungan keluarga kami sengaja Ayah kumpulkan untuk biaya kuliahku nanti. Tapi setelah kupaksa, akhirnya Ayah mengabulkan permintaanku. Aku ingin sekali bisa membantu Lastri dan hanya itu yang bisa aku lakukan untuk Lastri sahabatku.
Mulai saat itu, sampai seterusnya kehidupan Lastri kembali seperti biasa. Mencuci pakaian tetangga, mengasuh Ikbal dan Isal, membantu Mbok Darmi, sampai merindukan Ayah dan Ibunya. Meskipun kami hanya keluarga nelayan miskin, kami tetap senang tinggal di desa ini, di negeri anak-anak nelayan.

***