One Love for One's Life...

Kamis, 31 Mei 2012

NEGERI ANAK NELAYAN


(Cerpen Hana Rulistiawan)

Pagi belum nyata. Saat kebanyakan orang masih berselimut, aku berjalan di pinggir pantai. Aku senang diam di pinggir pantai saat matahari belum tampak sambil mengamati para nelayan yang sedang bekerja. Saat sedang asyik menikmati pemandangan pantai waktu subuh, pandanganku tertuju pada seorang gadis seumuranku yang kukenal dengan baik.
"Ayah, bukankah cuaca masih tidak baik untuk berlayar? Kenapa tidak tunggu sampai ombak tidak terlalu tinggi?" tanya Lastri pada Ayahnya. Lastri adalah seorang gadis manis berkulit hitam. Dia tetanggaku yang juga anak dari salah satu nelayan di desa ini. Rumahnya hanya berjarak beberapa meter saja dari rumahku. Tidak berbeda dengan Lastri, Ayahku juga seorang nelayan sederhana, sedangkan Ibuku membantu dengan berjualan makanan ringan atau juga sesekali ikut berlayar bersama Ayah.
"Lastri, Pak Broto sudah kehilangan kesabarannya. Ia ingin agar Ayah melunasi hutang-hutang ayah besok lusa. Kalau tidak, Pak Broto akan menyita perahu dan rumah kita," jawab Ayahnya.
Sambil membantu mempersiapkan, berulangkali Lastri terlihat membujuk Ayah dan Ibunya untuk mengurungkan niat mereka. Tapi aku mengerti, sangat mengerti bahwa apa yang Ayah dan Ibu Lastri lakukan adalah untuk menyambung kehidupan mereka. Bagaimana jika perahu itu diambil Pak Broto? Ayah Lastri tentu akan menjadi seorang pengangguran. Lalu rumahnya? Akh, gubuk kecil yang terbuat dari bilik itu, menjadi tempat yang selama ini mereka tinggali menjadi satu-satunya tempat berlindung dari sengatan panas matahari, juga saat langit memuntahkan berliter-liter air hujan yang dibarengi petir yang bersahutan.
"Lastri, Ibu titip adik-adikmu!" pesan Ibunya.
"Tentu bu, Lastri pasti menjaga mereka," kata Lastri meyakinkan.
Huuuffttthh, Lastri terlihat menghela napas panjang, saat perahu ayahnya mulai meninggalkan bibir pantai. Aku tahu benar Lastri khawatir dengan orang tuanya.
Kekhawatiran Lastri tentu beralasan, pasalnya sudah sejak lima hari lalu nelayan disini tidak diijinkan melaut. Gelombang tinggi dan cuaca buruk menjadi alasan kuat bagi para nelayan untuk berdiam sejenak di rumah-rumah mereka. Tapi, tidak sedikit pula nelayan yang membandel yang tetap saja melaut, seperti yang Ayah Lastri lakukan sekarang. Bukan lantaran tidak peduli pada nyawa, tapi himpitan kemiskinan adalah alasan utama mereka. Yah, siapa yang akan berdiam diri melihat anak istrinya kelaparan?
Segera setelah bayangan perahu ayahnya tidak tampak lagi, Lastri pergi meninggalkan pantai. Kini hanya ada aku dan beberapa nelayan yang sedang membereskan ikan-ikan hasil tangkapannya di sini.
Matahari mulai merangkak naik. Pantai mulai ramai dengan anak-anak nelayan miskin yang berlari-lari kesana kemari. Aku pulang ke gubuk yang tak jauh dari pantai, satu dari puluhan rumah para nelayan yang bertumpuk dan berdesakan. Bau amis ikan sudah seperti aroma pengharum ruangan bagi kami. Tidak ada pilihan aroma lain yang bisa kami hirup. Dimana-mana hanya ada ikan dengan berbagai jenis.
Sampai di depan rumah, aku melihat Ikbal, adik pertama Lastri sudah bersiap pergi ke sekolah, sedangkan adik bungsunya yang baru berumur 4 tahun, Isal, sepertinya masih tidur pulas di atas satu-satunya kasur busa tipis yang mereka miliki. Aku mengenal keluarga Lastri dengan baik. Dia gadis yang baik dan rajin. Kami memang dekat, hanya saja kesibukan Lastri mengurusi adik-adiknya membuat kami jarang mengobrol.
Biasanya sambil menunggu Isal bangun, Lastri memasak sepanci air untuk minum dengan menggunakan kayu bakar. Di desa ini tidak ada kompor gas, yang ada hanya kayu. Bukan karena di desa kami tidak mengenal gas, hanya saja rasanya penghasilan keluarga nelayan miskin seperti kami tentu akan jauh lebih memilih kayu bakar dengan efek asap mengepul ketimbang harus menyisihkan jatah untuk membeli gas.
Umur Lastri yang sudah menginjak angka tujuh belas memaksanya agar mengerti tentang keadaan keluarga. Keluarga nelayan miskin yang hidup hanya dari ikan yang dititipkan Tuhan di lautan, yang harus ditangkap dengan taruhan nyawa. Dulu aku dan Lastri sempat satu sekolah, tapi sejak lulus SD, Lastri sudah tidak lagi meneruskan sekolah. Bukan lantaran malas atau tak ingin. Tapi, lagi-lagi lantaran garis takdir sebagai anak nelayan miskin yang menjadikannya buruh cuci para tetangga yang bekerja di beberapa pabrik yang berjarak 10 km dari desa, mereka yang memang tak punya waktu untuk mencuci. Hmm, untuk apa juga mereka capek mencuci, sedang disini ada Lastri yang siap kapanpun mereka perlukan. Tidak hanya Lastri, si gadis pencuci, beberapa anak nelayan yang nasibnya sama seperti Lastri pun melakukannya, dari mencuci, berjualan di pasar, hingga menjadi pembantu rumah tangga sudah menjadi hal yang sangat biasa disini.
Keadaan keluargaku memang tidak lantas membuat kehidupanku seperti Lastri. Keluargaku cukup mampu, meskipun juga tidak kaya. Tapi rasanya masih bisa membiayai aku sekolah sampai tingkat SMA.
Setelah Isal bangun, Lastri biasa mengajaknya berkeliling untuk mengambil cucian, walau terkadang ada beberapa tetangga yang mengantarkannya ke rumah. Lalu, saat Lastri tengah sibuk mencuci, Isal dibiarkan bermain dengan anak-anak tetangga.
***
Matahari tenggelam. Hari mulai gelap.
“Sedang apa kamu, Las?” tanyaku pada Lastri yang diam mematung di ambang pintu rumahnya.
“Aku sedang menunggu Ayah dan Ibu pulang,” jawab Lastri sambil tersenyum.
“Oh… ya sudah, aku masuk dulu ya!” kataku sambil membereskan jemuran di depan rumah. Lastri mengaguk sambil tersenyum.
Kini suasana di sekitar desa menjadi sunyi. Udara sangat dingin menancap di kulit. Angin laut bertiup kencang. Sepertinya akan datang badai.
Malam sudah terlalu larut, aku memutuskan untuk segera tidur. Tetapi, saat hendak berbaring, tiba-tiba Duaaarrrrrrr! Sekelebat sinar disusul suara menggelegar membuatku tersentak. Dentuman petir saling bersahutan memekakkan telinga.
“Apakah badai akan datang?” gumamku sambil mengintip keadaan di luar dari jendela. Di luar begitu pekat, awan hitam bergulung-ngulung, kulihat Lastri masih berdiri di ambang pintu rumahnya. Aku mengerti kekhawatirannya. Segera menutup jendela kembali. Tak lama kemudian hujan turun.
***
Pagi belum nyata benar. Tidak ada kokok ayam jantan, karena memang tidak ada yang memeliharanya di sini. Seorang pria paruh baya bersiap melantunkan adzan di masjid yang ada di ujung gang sempit ini.
Aku hendak pergi ke pantai seperti biasa. Betapa kaget saat kudapati Lastri masih berdiri di ambang pintu rumahnya. Tubuhnya terlihat lemas. Aku yakin semalaman dia tidak tidur.
Kulanjutkan langkah kakiku menuju pantai. Kularikan pandanganku pada seluruh penjuru pantai, berharap dua sosok manusia yang kucari dapat kutemukan. Ah, apa mereka lupa waktu? Hingga subuh pun mereka masih terkatung-katung di lautan demi mendapatkan banyak ikan untuk di jual dan hasilnya akan dibayarkan pada Pak Broto, si lintah darat itu! Sepengetahuanku ini pertama kalinya Ayah dan Ibu Lastri tidak pulang semalaman, apalagi hanya karena mencari ikan.
Matahari mulai muncul, saatnya aku pulang. Langkahku terhenti tepat di depan rumah Lastri saat Mbok Darmi berteriak-teriak memanggil Lastri.
“Las… Lastriiii… !!”
“Iya mbok?” jawab Lastri. Isal yang sedang disuapi Lastri menatap serius pada Mbok Darmi.
Mbok Darmi membisikkan sesuatu ke telinga Lastri. Seketika wajah Lastri yang cantik itu berubah menjadi keruh. Bak awan hitam yang kulihat tadi malam. Lastri langsung berlari ke luar rumah sambil berteriak pada kedua adiknya, “kalian berdua tunggu di sini, jangan kemana-mana!”
Lastri berlari sekencang yang dia bisa menuju pantai sambil menangis. “Tuhan, kenapa Kau pulangkan Ayah dan Ibuku dalam keadaan tak bernyawa?” ucap Lastri sambil sesenggukan saat dia berjalan tepat di depanku. Aku tersentak. Bukan main musibah yang dipikul salah satu teman baikku itu. Aku langsung ikut berlari mengikutinya.
Lastri tampak mendekap satu persatu orang yang amat dicintainya itu. Mereka basah, beku, sangat dingin. Diperkirakan saat hujan kemarin malam gelombang meninggi dan perahu yang mereka gunakan terbalik, lalu keduanya tersapu ombak. Mayat mereka ditemukan mengapung jauh dari perahu.
Aku baru sadar, ada dua anak laki-laki berdiri disampingku, Ikbal dan Isal! Aku langsung memeluk mereka erat. Sangat erat. Mereka menangis, semakin keras. Dadaku sesak.
***
Selesai pemakaman, Ikbal dan Isal masih menangis. Sedangkan Lastri tampak lebih tenang, walaupun aku tahu hatinya pasti hancur kala mendapati orang-orang yang dicintainya tak lagi bernyawa. Aku sangat mengerti apa yang mereka rasakan. Tapi hidup mereka harus terus berlanjut.
Saat tiba di rumah Beni dan Lian masih saja terisak. Aku mulai tak tahan melihatnya. “Sudahlah, ikhlaskan mereka,” kataku. Aku tahu, ucapanku itu mungkin tidak ada artinya bagi mereka. Bagaimana tidak, kini tak ada lagi penopang hidup mereka.
“Kuatlah Las, adik-adikmu sangat membutuhkanmu”, bisikku pada Lastri sambil mendekapnya erat. Sejenak Lastri pejamkan mata, menghela napas panjang, dan tersenyum padaku. Yah, dia memang harus kuat demi kedua adiknya.
Tok tok tok! Seseorang mengetuk pintu rumah dengan sangat keras. Aku bergegas membukanya. Tampaklah seorang berbadan tegap. Postur tubuhnya yang besar dan raut wajah sangarnya lebih tepat jika diibaratkan seekor monster besar yang siap menikam mangsanya. Pak Broto! Aku kenal betul pria itu.
“Aku dengar Ayah dan Ibumu mati terseret ombak?” tanya Pak Broto tegas pada Lastri. Mati? Itulah Broto, lelaki yang sudah tidak muda lagi itu memang tidak pernah memperhatikan etika kesopanan dan tak pernah berbasa-basi.
“Ya…” jawab Lastri pelan.
“Berarti hutang-hutang Ayahmu kau yang bayar?”
Diam. Aku bingung. Dengan apa Lastri harus membayarnya?
“Pak Broto, orangtuanya kan baru saja meninggal… berilah mereka sedikit waktu! Bagaimana bisa anak kecil seperti mereka mampu membayar hutang yang begitu besar?” kataku ikut bicara. Lastri hanya menunduk lemas. Dia pasti bingung, bagaimana bisa dia membayar hutang Ayahnya.
“Baiklah, aku beri waktu dua hari! Tidak lebih!” kata Pak Broto setelah berpikir beberapa saat.
Belum sempat Lastri menjawabnya, Pak Broto bersama para ajudannya langsung pergi, mungkin dia tidak tahan lama-lama berada di gubuk kecil ini.
“Bagaimana ini Lana? Darimana Aku bisa dapat uang sebanyak itu?”, tanya Lastri padaku. Suaranya parau, tampak benar beban berat sedang berusaha dia pikul seorang diri. Aku tidak tega melihatnya. Bagaimana pun dia adalah temanku sejak kecil. Sebenarnya hutang Ayah Lastri pada Pak Broto awalnya 2 juta, tapi entah bagaimana ceritanya saat ini hutang Ayah menjadi 5 juta.
“Tenang Las, kita pasti dapat jalan keluarnya,” kataku sambil merangkul pundakku. Aku berusaha menguatkannya.
“Harga perahu sekarang berapa ya, Lan?” tanya Lastri tiba-tiba.
“Hmm, aku tidak tahu, Las. Memangnya kenapa? Kau tidak berniat untuk menjual perahu Ayahmu kan?” tanyaku mulai curiga. “Lastri, kau tahu sendiri itu perahu kesayangan Ayahmu sejak dulu. Sudah banyak yang menawarnya, tapi tak pernah sekalipun ia berniat menjualnya”.
“Aku tahu Lan, tapi aku tak punya pilihan lain! Sekarang, darimana aku bisa mendapat uang 5 juta dalam dua hari? Sedangkan upah cucianku sehari tidak lebih dari sepuluh ribu!”
Aku diam, menunduk. Ikbal dan Isal yang sedari tadi mendengarkan kami pun hanya bisa diam. Aku mengerti apa yang ada dipikiran Lastri.
***
Keesokan harinya Lastri mencoba menawarkan perahu ayahnya pada para saudagar, tapi tidak ada satupun yang berminat membelinya. Tapi Lastri tetap tak mau menyerah. Lastri mengelilingi desa berharap ada yang mau membeli perhau Ayahnya. Tapi masih saja tak ada yang mau beli, Lastri pun mulai persimis.
“Lastri!” sengaja aku kagetkan Lastri yang sedari tadi terlihat asyik melamun di teras rumahnya.
“Eh, iya Lana… ada apa?”
“Ada kabar baik, Las!” kataku sambil tersenyum.
“Kabar baik apa?”
“Tadi Ayahku bilang mau membeli perahumu!”
Lastri menatapku dengan haru. Seperti ada setrum dalam darahnya. “Serius Lan?” tanyanya mulai bersemangat.
Aku hanya mengangguk sambil tetap tersenyum. Dia langsung memelukku erat. Sepertinya berton-ton beban di bahunya sedikit berkurang. Aku tersenyum. Harganya memang sedikit lebih dari hutang Ayah Lastri. Paling tidak dapat menjadi simpanan mereka. Tanpa banyak bercakap, aku langsung pamit dan bergegas pulang menuju rumah meninggalkan Lastri yang hanya bisa diam.
Aku memaksa Ayahku untuk membeli perahu Lastri. Awalnya Ayah menolak, karena tabungan keluarga kami sengaja Ayah kumpulkan untuk biaya kuliahku nanti. Tapi setelah kupaksa, akhirnya Ayah mengabulkan permintaanku. Aku ingin sekali bisa membantu Lastri dan hanya itu yang bisa aku lakukan untuk Lastri sahabatku.
Mulai saat itu, sampai seterusnya kehidupan Lastri kembali seperti biasa. Mencuci pakaian tetangga, mengasuh Ikbal dan Isal, membantu Mbok Darmi, sampai merindukan Ayah dan Ibunya. Meskipun kami hanya keluarga nelayan miskin, kami tetap senang tinggal di desa ini, di negeri anak-anak nelayan.

***

Minggu, 26 Desember 2010

sajak

Si benalu pembawa pilu

Maaf, aku selalu mengganggu…
Anggaplah aku kerikil yang menempel pada sampul buku kehidupan kalian…
Aku mengotori sampul itu…
Tenanglah, saat angin datang akupasti ikut tersapu olehnya…
Dan aku akan terbang kemana angin membawaku…
Aku akan pergi, hingga tak lagi tercium bau busukku.

Maaf untuk segala hal yang ternodai egoku.






Aku tak mau berbagi

Bagaimana mungkin aku berbagi denganmu?
Sedang yang kupunya hanyalah kesedihan.
Aku tak ingin berbagi tangis ini denganmu, dengan siapapun…

Tangis ini…
Tangis sakitku…
Tangis tanda pilu…
Tangis sepi…
Tangis yang jadi sebab aku enggan menoleh ke arahmu.

Biar hanya aku !
Biar hanya aku yang rasa…

Aku tak sendiri…
Ada Tuhan !
Yah, Ia lah yang selama ini temani aku saat menangis !
Yah, Ia yang tak pernah melepas genggamanNya !
Saat yang yang lain satu persatu melepas genggaman dari hatiku, Ia justru menguatkan genggaman itu…
Saat tak ada satu pun yang memercayaiku, Ia satusatunya yang tak membiarkan aku merasa sendiri…
Hanya Ia yang tahu bagaimana hatiku.
Ia tahu, melebihi yang kutahu tentangku…


Bandung, 24 Desember 2010


Selasa, 21 Desember 2010

i love u mom...

every day is mother's day.
I really love her
my prayer is always about her
nothing is more special than her
she is the strongest woman I know
I love you mom :*

Ia (Tuhan) tempatku menggantungkan segala harap...

Aku berharap
Masih berharap
Tetap berharap
Dan akan selalu berharap
padaMu ! wahai Engkau Sang Pemilik setiap harap makhluk yang ada.

Jika harap ini Engkau benarkan, tolong Kau beri aku satu titik terang yang menunjukkan ini baik untukku...
Agar dengan segera aku temukan ujung dari bentangan harap yang selama ini kulantunkan..

Doaku, harapku !
Kau tempat menggantungkan harap tiaptiap hati yang tertaut padaMu.
TempatMu takkan pernah habis meski harap yang datang padaMu tak lagi terhitung banyaknya.

Minggu, 24 Oktober 2010

Sajak Perpisahan

Dalam sajak, aku bercerita...
Tentangku, tentangmu, dia, kalian, mereka, dan hidupku...
Ada senang, sedih, cinta, kasihsayang, amarah, luka.

Tentangku, yang orang anggap terlalu banyak rahasia dalam tubuhku.
Biasa saja, aku hanya gadis yang tengah beranjak dewasa yang juga mengharapkan semua yang terbaik pada tiap sisi hidupnya.
Normal bukan?!

Untukmu yang pernah menghuni sajakku,
Yang menjadi inspirasi terbaik untukku merangkai sajak tentang apa itu pedih...
Terimakasih, kenangan bersamamu akan senantiasa menjadi cermin yang menamparku jika aku mengulanginya suatu saat nanti.

Kau tahu?
aku tak pernah menyengaja mencintaimu,
pun aku tak pernah meminta pada Tuhan tuk selalu melekatkan ingatanku pada memori tentangmu...





Semua Sudah Tak Perlu

Tak perlu menunggu malam untuk tidur .

Tak perlu menunggu fajar untuk terjaga .
Juga tak perlu menunggu hujan ‘tuk berselimut .
Tak perlu menunggumu untukku bahagia !
Aku bisa, meski tanpamu...

Sajak Kenangan

Engkau yang tahu, Tuhan

Bukankah engkau tahu,
Seberapa dalam luka ditubuh ini?
Engkau yang tahu,
Bahwa tiang itu tak mampu lagi menopang beban...
Bocorkah saluran kelenjar airmata ini?
Mengapa tak jua henti ia keluarkan butirbutir airmata?
Tak relakah ia jika kulit pipi mengering?

Sepi, sahabatku...
Terimakasih karena selama ini kau selalu menemani pagi dan malamku..
Kau pula lah yang setia mendengarkan keluh kesah dari bibirku..
kau buat aku mengerti,
aku tak boleh sedikit pun merasa kehilangan sesuatu yang tak pernah kumiliki sebelumnya,
aku sadar, aku tak berhak... tentu saja!